KH Abdullah Gymnastiar - detikRamadan
Bulan suci Ramadan adalah bulan istimewa. Hari-hari di dalamnya
hari-hari istimewa. Saat-saat di dalamnya, saat istimewa. Bulan
dibukakannya segala pengampunan, pintu surga, dan ijabahnya doa-doa.
Bulan ditebarkannya harapan bagi mereka yang berharap kepada-Nya. Bulan
diangkatnya segala kesulitan hidup bagi yang meminta bantuan-Nya. Kalau
kita dililit utang-piutang, maka Allah adalah Dzat Maha Kaya yang
menjanjikan terkabulnya doa. Dia dengan mudah akan melunasinya. Di bulan
inilah pula sebagai wahana memohon pertolongan Allah atas segala
kebutuhan hidup kita.
Ujian hidup tidak bisa kita elakkan dari
kehidupan ini. Ujian senantiasa menyertai. Dari sejak kecil, kita
dibesarkan oleh ujian. Baik itu ujian sekolah, organisasi, dan
sebagainya. Sesugguhnya itu ujian yang kecil. Di samping itu, ada ujian
hidup yang sesungguhnya dapat mematangkan diri kita.
“Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu
seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh
malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah pertolongan Allah?’
Ingatlah sesungguh pertolongan Allah itu sangat dekat” (QS Al-Baqarah:214)
"Jika
Allah SWT menyentuhkan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada
yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki
kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia
memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Yunus (10) : 107)
Allah
SWT dalam menyebut istilah ujian dalam ayat itu menggunakan kata
‘menyentuhkan’. Musibah kepada kita itu hanya sentuhan bukan pukulan.
Adapun ternyata kita merasa sakit, sebabnya kita tidak mau menerima
musibah ini. Padahal, jelas-jelas musibah ini sarat dengan berbagai
pahala dan hikmah, misalnya bisa menggugurkan dosa, mengangkat derajat
keimanan di hadapan Allah SWT. Sehingga, jika saja kita mengetahui dan
meyakini tatkala diuji, dengan penghinaan misalnya, itu sebagai
penggugur dosa, maka kita tidak akan merasa demikian perih ketika
menerimanya.
Dan juga jangan pernah merasa kita sendirian kapan pun dalam melalui berbagai ujian Allah SWT.
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS Qaaf: 16).
Karena
Allah-lah yang mengurus kita setiap saat. Yang menyayangi diri kita
sendiri, bahkan lebih daripada kita sendiri. Andai kita mengetahui
betapa Allah yang menyayangi hamba-Nya, pasti kita tidak akan
mengkhianatinya, karena saking malunya. Andai saja kita tahu kekuasaan
Allah SWT yang mutlak sempurna, pasti tidak akan ada lagi harapan atau
bergantung dan bersandar kepada selain Allah. Andai saja kita tahu
perlindungan Allah Maha Sempurna Maha Kokoh, tentunya kita tidak akan
minta tolong pada siapa pun, karena meminta kepada seseorang bisa
menyebabkan hina harga diri kita. Meminta kepada Allah, akan
meningkatkan harga diri kita, dan tidak akan pernah sedikit pun
dikecewakannya.
Allah pun demikian menyayangi orang beriman, sebagaimana tersurat dalam sirah nabawiyah:
"Ketika itu, dalam suatu peperangan, pasukan muslimin mendapat banyak
tawanan perang. Di antaranya terlihat seorang perempuan yang menggendong
bayi dengan menunjukkan kasih sayangnya melalui pelukan, belaian,
disusuinya dan sebagainya. Lalu Rasul saw bertanya kepada para
sahabatnya, “Bagaimana kiranya menurutmu, ibu tersebut, akan tegakah
melemparkan anaknya ke dalam api yang menyala?” “Demi Allah tidak
mungkin,” kata para sahabat. “Ketahuilah, Allah mencintai orang yang
beriman lebih daripada ibu tersebut mencintai anaknya. Allah tidak
mungkin melemparkan orang yang beriman ke neraka”
Jadi,
sesungguhnya yang mengantarkan kita ke neraka itu kelakuan kita sendiri.
Kita diuji dengan sakit, difitnah, dijauhi, kehilangan sesuatu, supaya
kita bersih dari dosa-dosa; dosa kita bisa terkikis habis; supaya hati
tidak bersandar dan tidak merasa nyaman dengan selain Allah; supaya
tatkala pulang ke akhirat kita bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan
diridhainya.
Mudah-mudahan Allah SWT menyingkapkan hijab di hati
kita, sehingga iman tidak hanya di mulut, melainkan menghujam hingga ke
dalam pori-pori hati kita. Setiap saat kita sibuk dengan Allah Yang Maha
Gagah. Allah SWT tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang hatinya
selalu ingat pada-Nya.
"Dan pastilah Allah akan menolong siapa saja yang mau menolong (Dien)-Nya" (QS Al-Hajj: 40)
Tidak
ada yang menginginkan kita ke surga kecuali Allah SWT Sang Pencipta.
Maka jangan pernah bersuudzon (berburuk sangka) kepada Allah SWT tatkala
diuji dari berbagai masalah. Itu semua menunjukkan bahwa kita diuji dan
terbukti kita layak masuk surga.
*Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid
Pendiri dan Pembina DPU Daarut Tauhiid