Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Saturday, August 11, 2012

Mengapa Masih Menyia-nyiakan Ramadan?

KH Abdullah Gymnastiar - detikRamadan.com

Di akhir-akhir bulan Ramadhan ini, hamba-hamba yang serius kepada Allah SWT mulai terlihat peningkatan ibadahnya dengan sungguh-sungguh. Terutama mereka yang berada di masjid-masjid untuk i'tikaf, khususnya juga di masjidil Haram, Tanah Suci Makkah, saat penulis menyampaikan materi ini. Hari demi hari ini mereka ingin menyempurnakan Ramadan.

Dengan i'tikaf kita bisa memperbaharui membersihkan hati, meningkatkan amal ibadah, dan juga bertafakur atas perjalanan hidup kita. Kita mesti menafakuri bulan suci Ramadan yang sudah hampir habis, lalu mengevaluasi diri: Apakah yang sudah berubah pada diri kita? Apakah ibadahnya semakin baik? Apakah Ramadan ini kita lebih mengakrabkan diri kepada Allah SWT melalui Kitabullah? Semakin banyakkah bacaan Alquran kita? Tentunya tidak hanya sekadar membacanya, tapi juga berusaha memahami dan mengamalkannya. Walaupun benar Alquran memang untuk dibaca dan dihapal, lebih sempurna lagi hal itu dijadikan sebagai jalan untuk diamalkan.

Mengapa kita enggan berakrab-akrab dengan Alquran? Padahal Alquran adalah bersumber langsung dari Allah SWT Pencipta alam semesta raya. Alquran diturunkan untuk kesuksesan diri kita. Paling penting pula adalah serius dalam mengamalkannya agar Allah bisa memandu jalan hidup kita melalui Alquran. Mengapa kita masih saja meremehkan Ramadan, dengan sikap kita yang masih jauh dari menghormati jamuan Allah ini. Apabila meremehkan Ramadan, sama halnya dengan meremehkan jamuan Allah; sangat sombong, sangat tidak beradab. Allah SWT menyiapkan semua kebaikan untuk kita melalui jamuan Ramadan, namun kita tidak peduli dengan jamuan tersebut, berarti kita takabur.

Apakah Ramadan lebih sibuk dengan ke sana ke sini hanya untuk urusan duniawi? Malah ibadah kita menjadi terlalaikan? Apalagi di malam hari, apakah kita lebih memilih menghargai jamuan Allah ibadah di malam hening yang lebih berkah? Atau kita hanya nikmat tertidur pulas saja. Lupa kepada Allah SWT, menganggap enteng keberkahan malam sepertiga terakhir, mengabaikan nikmatnya bermunajat kepada Allah SWT. Padahal Allah terus-menerus memperhatikan kita.

Kita lihat artis-artis memperindahan nyanyiannya hanya ingin dinilai oleh orang yang bakal meninggal. Tidakkah kita mau memperbagus ibadah-ibadah kita yang akan dinilai oleh Allah Yang Maha Hidup. Padahal Allah SWT yang lebih menyukai keindahan-keindahan. Tidak ada yang lebih berhak atas keindahan ini kecuali Allah yang menciptakan keindahan. Orang yang menyanyi saja dihayati hingga bisa sampai menangis? Mengapa dalam pembacaan Alquran kita tidak sampai menggetarkan jiwa. Bacalah dengan nikmat yang indah agar bisa lebih menghujam ke dalam hati, lebih-lebih di malam hari.

Tafakuri pula bagaimana kecintaaan kita kepada rumah Allah SWT. Apakah makin dekat saja di bulan Ramadhan ini dengan rumah Allah SWT? Apakah di hati kita tersimpan kerinduan kepada rumah Allah SWT? Jika tidak, bagaimana kita masih mempunyai hati yang kering seperti ini. Bagaimana mungkin di Ramadhan kita tidak semakin mencintai rumah Allah SWT, padahal mesjid adalah tempat yang paling berkah, paling disukai Allah SWT. Sedangkan kita malah lebih banyak berputar-putar di tempat-tempat belanja.

Mau ke mana hidup ini? Padahal kebahagiaan miliki Allah SWT, ketenangan, kecukupan, semuanya milik Allah SWT. Bagaimana mungkin kita menyia-nyiakan semua karunia ini hanya karena kesenangan nafsu duniawi. Tidakkah kita selama sebelas bulan habis dalam kesenangan duniawi, sedangkan yang satu bulan, bahkan yang 10 hari terakhir di Ramadan, tidakkah diri kita lebih mengistimewakan dalam memperlakukan jamuan Allah SWT ini. Agar kita tidak termasuk orang yang menganggap remeh jamuan Allah SWT, merendahkan keagungan Allah SWT, tidak membutuhkan rahmat Allah SWT, dan tidak peduli dengan ampunan Allah SWT .

Mudah-mudahan kita lebih banyak waktu untuk bertafakur. Sebelum adanya kita, dunia dari dulu di sini. Tidak ke mana-mana. Kita berkarya di dunia adalah amal shalih kita. Namun, apabila kita terus menerus disibukkan dengan urusan duniawi kita, sehingga melalaikan jamuan ramadhan ini, jangan salahkan siapa-siapa atas kezaliman diri sendiri kita, yang bisa merusak kehidupan dunia akhirat kita, akibatnya untuk diri dan keluarga. Karena kita tidak peduli dengan keselamatannya.

*Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid
Pendiri & Pembina DPU Daarut Tauhiid
read more...

Sunday, August 5, 2012

Nuzulul Qur'an - Hidup Mulia dengan Alquran

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS Al-Qadr: 1-5)

Kitab suci umat Islam yang merupakan wahyu terakhir diturunkan kepada Rasul Allah terakhir disebut dengan Alquran. Kata ini memiliki 2 arti, yaitu bacaan (qira’atan wa qur’anan) dan mengumpulkan atau kompilasi (jam’an). Ia dinamai demikian karena Alquran adalah bacaan mulia yang menghimpun dan mengkompilasi intisari semua kitab atau wahyu Allah yang sebelumnya telah diwahyukan kepada para nabi. Lebih dari itu, ia juga menghimpun seluruh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia. Hal itu disebabkan karena ia adalah firman Allah yang ilmu-Nya mencakup segala hal yang berkaitan dengan manusia, dan bahkan di luar jangkauan manusia, karena ia adalah Sang Pencipta alam semesta.

Alquran menjelaskan bahwa ia awal mula turun pada bulan Ramadan, dan berfungsi menjadi petunjuk bagi manusia (Al-Baqarah: 185). Malam turunnya adalah malam kemuliaan (Al-Qadr:1) yang penuh keberkahan (Ad-Dukhan: 3). Ia adalah bacaan yang agung (Qaf: 1), lagi mulia (Shad: 1), berbahasa arab yang jelas dan terang (Fusshilat: 3), mudah diingat dan dipelajari oleh siapa pun yang hatinya bersih (Al-Qamar: 17), serta banyak berisi petunjuk bagi manusia namun direspon negatif (kekufuran) oleh banyak orang (Al-Isra’: 89).

Allah mengabarkan bahwa orang-orang kafir tidak suka mendengar Alquran dikarenakan ada tabir yang tebal di hati mereka yang menghalangi, sehingga mereka lari dari hidayahnya.

"Dan apabila kamu membaca Alquran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Alquran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya," (Al-Isra’: 45-46)

Sehingga untuk membacanya dengan baik, kita dianjurkan untuk melakukan persiapan khusus dengan hati yang bersih dan memohon perlindungan kepada-Nya dari godaan setan (An-Nahl: 98). Ketika tidak membacanya pun, kita harus menyimaknya dengan melibatkan seluruh perasaan, indera dan alat pemahaman sehingga terjadi interaksi, tadabbur, dan pengaruh yang nyata dalam keseharian.

"Dan apabila dibacakan Alquran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Al-A’raf: 204)

Pengaruh Alquran sungguh luar biasa kepada gunung, bumi dan orang yang sudah meninggal.
"Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir." (Al-Hasyr: 21);

"Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al-Quran Itulah dia) Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah." (Ar-Ra’d: 31).

Jika demikian hebatnya pengaruh Alquran bagi benda mati yang tak bernyawa dan tak berakal fikiran, maka Al-Qur’an harus lebih mampu mempengaruhi kita segenap manusia yang berakal fikiran apalagi yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW.

Sejak semula Alquran telah dan akan terus memberi pengaruh yang baik, namun tentu saja ada yang salah dan keliru dengan kita dan media bacaan kita sehingga Alquran belum memberi pengaruh yang kuat kepada kaum muslimin.

Untuk itulah Allah perintahkan kita untuk tadabburi Al-Qur’an (Muhammad: 24), sehingga sampai pada tahap seorang mukmin bertambah iman dan percaya yang mutlak terhadap firman Allah dan ketetapan-Nya (An-Nisa’: 82), dan jika kita lakukan proses itu dengan baik dan benar maka Al-Qur’an akan memberikan pengaruh positif bagi setiap mukmin berupa petunjuk, obat penawar dan rahmat bagi mereka,

“Sesungguhnya Al-Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Isra’: 9), "Dan kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (Al-Isra’: 82)

Sehingga siapapun yang menerapkan konsep Alquran baik inspirasi maupun aspirasi ajarannya, maka ia akan menjadi bijak sebagaimana sifat Alquran yang banyak mengandung hikmah (Yunus: 2, Yaasin: 1-2).

Untuk itulah, kita dilarang untuk memilah-milah ajaran Alquran, dalam pengertian bahwa seluruhnya harus kita ambil dan jadikan pedoman hidup. Sikap yang utuh dan tidak parsial merupakan karakter Alquran sendiri, sehingga barang siapa yang memotong-motongnya maka ia akan mendapat azab dari Allah, Dan Katakanlah: "Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan". Sebagaimana (Kami Telah memberi peringatan), kami Telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang Telah menjadikan Alquran itu terbagi-bagi." (Al-Hijr: 89-91).

Azab itu bisa jadi kini berwujud dalam kelemahan dan ketertindasan umat Islam di hampir semua aspek, karena kita beriman kepada Alquran secara sepotong-sepotong.

Selain itu, umat juga dilarang untuk menyia-nyiakan petunjuk Al-Qur’an (Al-Furqon: 30), dan salah satu cara musuh-musuh Islam adalah kampanye untuk tidak mendengarkan dan mematuhi ajaran Al-Qur’an, Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (Fusshilat: 26)

Dari petunjuk ayat itu kita dapat merasakan bahwa kaum kuffar mengetahui rahasia dan strategi untuk mengalahkan umat Islam dan menghapus cahaya kebenaran Al-Islam dari peta dunia, yaitu dengan menjauhkan umat muslim dari konsep-konsep Alquran, maka kita pun dibuat hiruk pikuk dengan beragam konsep asing dalam menjalankan hidup seraya tercerabut dari Din Al-Islam yang diridhoi Allah swt, dimana Al-Qur’an merupakan sentral dari peta jalan menuju kebangkitan yang hakiki.

Interaksi Salafus Saleh dengan Alquran

Meski Alquran menyimpan potensi yang maha dahsyat, tetapi mengapa umat ini belum bisa bangkit dan masih terpuruk di halaman belakang peradaban dunia saat ini? Padahal, Alquran yang kita pegang saat ini tetap lah Alquran yang otentik dan final seperti yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW dan didengarkan para sahabat rz tak ada yang berkurang sedikitpun dari hakikatnya yang asli.

Yang perlu kita koreksi adalah: pertama, sikap dan mental kita yang salah dalam mendudukkan Al-Qur’an dalam kehidupan kita. Dan kedua, adalah jenis interaksi dan media tilawah kita yang tidak sesuai metode tarbiyah sahabat di bawah bimbingan Rasulullah.

Marilah kita bercermin kepada generasi terbaik umat (Salafus Saleh) dalam mengubah 2 hal pokok problem besar umat Islam dewasa ini. Di bawah ini beberapa petikan pernyataan mereka:

Abdullah ibn Mas’ud RA berkata:
“Sungguh, dahulu kami kesulitan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an namun amat mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sekarang, generasi setelah kami begitu mudahnya menghafal Al-Qur’an namun amat sulit bagi mereka mengamalkannya.” (Dinukil dari Tafsir Al-Qurthubi, vol.1/40)

Abdullah ibn ‘Umar ibn Al-Khattab RA berkata:
“Kami telah mengalami masa yang panjang dalam perjuangan Islam, dan seorang dari kami telah ditanamkan keimanan sebelum diajarkan Alquran, sehingga tatkala satu surah turun kepada Nabi Muhammad saw maka ia langsung mempelajari dan mengamalkan halal-haram, perintah-larangan dan apa saja batasan agama yang harus dijaga. Lalu aku melihat banyak orang saat ini yang diajarkan Al-Qur’an sebelum ditanamkan keimanan dalam dirinya, sehingga ia mampu membaca Alquran dari awal hingga akhir dan tak mengerti apa-apa soal perintah dan larangan dan batasan apa saja yang mesti dipelihara.” (Lihat kitab Ihya' Ulumiddin, vol.1/500)

Al-Hasan Al-Bashri RA berkata:
“Sunguh, Al-Qur’an ini telah dibaca oleh budak-budak sahaya dan anak kecil yang tak mengerti apapun penafsirannya. Ketahuilah bahwa mentadabburi ayatnya tak lain adalah dengan mengikuti segala petunjuknya, tadabbur tak hanya sekedar menghafal huruf-hurufnya atau memelihara dari tindakan menyia-nyiakan batasannya. Sehingga ada seorang berkata sungguh aku telah membaca seluruh Qur’an dan tak ada satu huruf pun yang luput, sungguh demi Allah orang itu telah menggugurkan seluruh Qur’an karena Qur’an tidak berbekas dan tidak terlihat pengaruhnya pada akhlak dan amalnya!” (Dinukil dari kitab Az-Zuhd hlm.274)

Semoga kita semua dapat meneladani salafus saleh dalam mewujudkan peradaban Al-Qur’an yang memuliakan hidup kita dunia-akhirat.

Wallahu A’lam.

*Penulis adalah sekjen MIUMI, detikRamadan
read more...

Pengenalan Terhadap Surah Al Qalam

Pengenalan Terhadap Surah Al Qalam - Surah al-Qalam, terdiri dari 52 ayat. Mayoritas ulama berpendapat, keseluruhan ayatnya Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah. Beberapa riwayat mengecualikan sekian ayat. Riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas ra ini menyatakan bahwa awal surah ini sampai dengan ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai dengan ayat 33 Madaniyah, selanjutnya ayat 34 sampai dengan 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya adalah Madaniyah lagi.

Namanya yang populer adalah Surah al-Qalam dan juga Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu sehingga menamainya Surah Nun wa al-Qalam. Kesemua nama itu bersumber dari ayat pertama surah ini.
Banyak riwayat yang menyatakan bahwa awal surah ini merupakan wahyu kedua yang diterima Nabi saw, sesudahnya adalah surah al-Muzzammil, baru kemudian al-Muddatstsir. Sebagian mereka yang berpendapat demikian, menyatakan penafian kegilaan yang ditegaskan oleh ayat 3 surah ini bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi Muhammad saw sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itulah yang dinafikan sehingga sangat wajar jika awal surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima.

Riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah kedua yang diterima Nabi saw adalah surah al- Muddatstsir. Ada juga ulama yang menolak riwayat-riwayat di atas dengan berbagai alasan.
Betapapun dapat diduga keras bahwa surah ini merupakan salah satu surah awal yang diterima Nabi saw dan itu setelah sekian lama beliau berdakwah dan menerima penolakan dari masyarakat Mekkah. Bagi Nabi saw, surah ini menenangkan hati dan menghibur beliau yang dicerca dengan aneka cercaan. Juga menguatkan hati beliau melalui janji Allah swt serta pujian-Nya atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap menghadapi kaum musyrik Mekkah.

Intisari Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7

Akhir surah yang lalu (Al Mulk), satu ayat sebelum menutupnya, berbicara tentang dua kelompok yang bertolak belakang; satu akan dibinasakan Allah swt dan yang lainnya diselamatkan tanpa menyebut sifat-sifat mereka. Pada awal surah ini, setelah bersumpah dengan Nun dan al-Qalam, Allah swt menjelaskan siapa yang meraih keberuntungan dan ganjaran yang tidak putus-putusnya serta siapa pula yang akan menemukan sanksi Allah swt.

Allah swt berfirman: Nun. Demi Qalam, yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tulis [1]. Bukanlah engkau berkat nikmat Tuhan Pemeliharamu, wahai Nabi Muhamad saw, seorang yang mengindap sedikit kegilaan [2]. dan sesungguhnya telah tersedia untukmu secara khusus ganjaran yang besar yang tidak putus-putusnya, atas jerih payah dan kesungguhanmu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi [3]. Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung [4].

Ayat-ayat berikut mengukuhkan kandungan ayat-ayat yang lalu, Ayat 5 menyatakan bahwa: Nanti, dalam waktu yang dekat, engkau wahai Nabi Muhammad saw akan melihat serta mengetahui pula dan mereka orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui pula [5] siapa di antara kamu yang sesat dan gila [6]. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Nabi Muhammad saw, Dialah saja Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila dan kacau pikirannya. Allah swt saja Yang Paling Mengetahui al-Muhtadin, yakni orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan secara mantap petunjuk Allah swt. [7].

detikRamadan
read more...

Nuzulul Quran di Abu Dhabi

Andree Priyanto - detikRamadan

Nuzulul Quran di Abu Dhabi - Di mata Muhammad Ruslailang Noertika dan teman-temannya, peringatan Lailatul Qadr atau malam seribu bulan bukan sekadar ritual keagamaan. "Di negeri kami, ini bagian dari budaya," kata pria berumur 36 tahun itu.

Itu sebabnya, insinyur asal Indonesia ini tak pikir panjang lagi manakala diundang komunitas Indonesia di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dalam acara peringatan Nuzulul Qur'an pada Kamis pekan lalu.

"Acara seperti ini tak hanya memperkuat silaturahmi, tapi juga menambah tebal keimanan kami," tutur Noertika. Di Indonesia, malam Nuzulul Quran jatuh pada hari ini atau haria ke-17 Ramadan.

"Sebagai muslim yang tinggal di luar negeri, kami mesti terus mengingat bahwa Alquran amat penting sebagai pegangan hidup kita,"ujar Joko Priatmoko (40), juga ekspatriat asal Indonesia.

Bukan cuma malam Nuzulul Quran, kata Joko, warga Indonesia di Abu Dhabi berkumpul selama Ramadan. "Kami kumpul sahur bersama, tarawih, dan berpartisipasi dalam pelbagai kegiatan agama."

"Saya senang komunitas masyarakat Indonesia di Abu Dhabi menggelar acara-acara semacam ini," ujar Duta Besar Indonesia di Abu Dhabi, Salman Al Farisi (53). Sebab, kata dia, Ramadan adalah saat tepat untuk merenung.

"Berdoa sekaligus memperbaiki keimanan," tutur Salman.

Ketua Komunitas Indonesia di Abu Dhabi, Muhammad Walfajri (35), mengatakan ada lebih dari 300 warga Indonesia yang menghadiri pertemuan itu.

"Mereka datang bukan hanya dari Abu Dhabi, tapi juga Al-Ain dan Ruwais," tutur Walfajri. Menurut dia, komunitas juga ikut berparisipasi mempersiapkan salat Idul Fitri pada 19020 Agustus nanti. "Lokasinya di kedutaan," katanya.
read more...

Sunday, July 22, 2012

Ramadan Bulan Istimewa

KH Abdullah Gymnastiar - detikRamadan

Bulan suci Ramadan adalah bulan istimewa. Hari-hari di dalamnya hari-hari istimewa. Saat-saat di dalamnya, saat istimewa. Bulan dibukakannya segala pengampunan, pintu surga, dan ijabahnya doa-doa. Bulan ditebarkannya harapan bagi mereka yang berharap kepada-Nya. Bulan diangkatnya segala kesulitan hidup bagi yang meminta bantuan-Nya. Kalau kita dililit utang-piutang, maka Allah adalah Dzat Maha Kaya yang menjanjikan terkabulnya doa. Dia dengan mudah akan melunasinya. Di bulan inilah pula sebagai wahana memohon pertolongan Allah atas segala kebutuhan hidup kita.

Ujian hidup tidak bisa kita elakkan dari kehidupan ini. Ujian senantiasa menyertai. Dari sejak kecil, kita dibesarkan oleh ujian. Baik itu ujian sekolah, organisasi, dan sebagainya. Sesugguhnya itu ujian yang kecil. Di samping itu, ada ujian hidup yang sesungguhnya dapat mematangkan diri kita.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah pertolongan Allah?’ Ingatlah sesungguh pertolongan Allah itu sangat dekat” (QS Al-Baqarah:214)

"Jika Allah SWT menyentuhkan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Yunus (10) : 107)

Allah SWT dalam menyebut istilah ujian dalam ayat itu menggunakan kata ‘menyentuhkan’. Musibah kepada kita itu hanya sentuhan bukan pukulan. Adapun ternyata kita merasa sakit, sebabnya kita tidak mau menerima musibah ini. Padahal, jelas-jelas musibah ini sarat dengan berbagai pahala dan hikmah, misalnya bisa menggugurkan dosa, mengangkat derajat keimanan di hadapan Allah SWT. Sehingga, jika saja kita mengetahui dan meyakini tatkala diuji, dengan penghinaan misalnya, itu sebagai penggugur dosa, maka kita tidak akan merasa demikian perih ketika menerimanya.

Dan juga jangan pernah merasa kita sendirian kapan pun dalam melalui berbagai ujian Allah SWT.

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS Qaaf: 16).

Karena Allah-lah yang mengurus kita setiap saat. Yang menyayangi diri kita sendiri, bahkan lebih daripada kita sendiri. Andai kita mengetahui betapa Allah yang menyayangi hamba-Nya, pasti kita tidak akan mengkhianatinya, karena saking malunya. Andai saja kita tahu kekuasaan Allah SWT yang mutlak sempurna, pasti tidak akan ada lagi harapan atau bergantung dan bersandar kepada selain Allah. Andai saja kita tahu perlindungan Allah Maha Sempurna Maha Kokoh, tentunya kita tidak akan minta tolong pada siapa pun, karena meminta kepada seseorang bisa menyebabkan hina harga diri kita. Meminta kepada Allah, akan meningkatkan harga diri kita, dan tidak akan pernah sedikit pun dikecewakannya.

Allah pun demikian menyayangi orang beriman, sebagaimana tersurat dalam sirah nabawiyah: "Ketika itu, dalam suatu peperangan, pasukan muslimin mendapat banyak tawanan perang. Di antaranya terlihat seorang perempuan yang menggendong bayi dengan menunjukkan kasih sayangnya melalui pelukan, belaian, disusuinya dan sebagainya. Lalu Rasul saw bertanya kepada para sahabatnya, “Bagaimana kiranya menurutmu, ibu tersebut, akan tegakah melemparkan anaknya ke dalam api yang menyala?” “Demi Allah tidak mungkin,” kata para sahabat. “Ketahuilah, Allah mencintai orang yang beriman lebih daripada ibu tersebut mencintai anaknya. Allah tidak mungkin melemparkan orang yang beriman ke neraka”

Jadi, sesungguhnya yang mengantarkan kita ke neraka itu kelakuan kita sendiri. Kita diuji dengan sakit, difitnah, dijauhi, kehilangan sesuatu, supaya kita bersih dari dosa-dosa; dosa kita bisa terkikis habis; supaya hati tidak bersandar dan tidak merasa nyaman dengan selain Allah; supaya tatkala pulang ke akhirat kita bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan diridhainya.

Mudah-mudahan Allah SWT menyingkapkan hijab di hati kita, sehingga iman tidak hanya di mulut, melainkan menghujam hingga ke dalam pori-pori hati kita. Setiap saat kita sibuk dengan Allah Yang Maha Gagah. Allah SWT tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang hatinya selalu ingat pada-Nya.

"Dan pastilah Allah akan menolong siapa saja yang mau menolong (Dien)-Nya" (QS Al-Hajj: 40)

Tidak ada yang menginginkan kita ke surga kecuali Allah SWT Sang Pencipta. Maka jangan pernah bersuudzon (berburuk sangka) kepada Allah SWT tatkala diuji dari berbagai masalah. Itu semua menunjukkan bahwa kita diuji dan terbukti kita layak masuk surga.



*Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid
Pendiri dan Pembina DPU Daarut Tauhiid
read more...

Thursday, July 19, 2012

Hikmah Puasa Ramadhan

Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani 

Perjalanan waktu terus berlangsung. Tanpa terasa sekian ramadhan telah dilewati. Ini membuktikan bahwa masa sudah saling berdekatan sebagaimana yang di beritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangkali sebagian kita telah melalui ramadhan selama enam puluh tahun, ada pula yang lima puluh tahun, empat puluh tahun, tiga puluh tahun, dua puluh tahun, atau lebih maupun kurang. Namun apa hasil yang sudah kita raih untuk kebaikan agama dan akherat kita. Sudahkah tempaan bulan suci ramadhan mampu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Atau masihkah tingkah laku kita sama dengan masa sebelumnya bahkan malah lebih parah. Kita memohon kepada Allah ampunan dan rahmat-Nya.
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita merenungi Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berikut ini, (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang –orang yang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa (kepada Allah)”. (Al Baqarah: 183)
Apabila bertakwa kepada Allah menjadi tujuan yang utama dalam melaksanakan puasa ramadhan berarti pemenangnya adalah orang yang berhasil meningkatkan mutu ketakwaannya selepas bulan yang suci ini. Tentu sangat ironis, jika seorang yang berpuasa di bulan ramadhan justru lebih jauh dari Allah pada bulan-bulan yang berikutnya. Bahkan merupakan kesalahan yang besar bila seorang yang berpuasa mau menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat hanya  dalam bulan suci ramadhan dan tak lebih dari itu. Semestinya, fenomena rasa antusias yang sedemikain tinggi untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi kemaksiatan dalam bulan suci ramadhan bisa ditularkan pada perputaran waktu yang selanjutnya.
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita menghilangkan dari benak kita asumsi bahwa ramadhan hanya sekadar seremonial ritual agama yang di gelar karena adat istiadat umat islam.  Selepasnya, kita kembali kepada kemerosatan keyakinan dan moral yang sudah berlangsung sebelumnya dengan sangat parah dan rendah. Marilah kita menjadikan ramadhan sebagai pendidikan spiritual yang mampu membentuk kita sebagai manusia-manusia berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya bulan suci ramadhan ini mengandung berbagai pelajaran dan hikmah yang cukup banyak. Ibarat buah yang sudah ranum diatas pohonnya dan hanya tinggal menanti siapa yang datang untuk memetiknya. Dalam tulisan yang ala kadarnya ini, kami mencoba untuk menyuguhkan sebagian pelajaran dan hikmah bulan suci ramadhan bagi para pembaca yang budiman, dengan harapan semoga Allah memberkati kehidupan kita dari waktu ke waktu yang kita lalui, sehingga kita menjadi semakin baik dan lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berpuasa
Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alihi wasalam. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan. Selain puasa ramadhan disana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah.  Yang wajib, misalnya seperti puasa qadha`, puasa kaffarah, dan puasa nadzar. Adapun yang sunnah, misalnya seperti puasa nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, Puasa hari senin dan kamis, puasa hari-hari putih yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan limas belas dari setiap pertengahan bulan hijriyah dan lain sebagainya.
Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu ketakwaan kita. Disamping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan diri dari amukan api neraka. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan api neraka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad yang hasan)
Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak? Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita.  Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah radhiyallahu ‘anha)
Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita. Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya):
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai segenap kaum muslimin, ketahuilah, bahwa lambung yang penuh merupakan sarang syaithan yang paling kotor. Dari lambung yang penuh itu, dia akan menggoda seorang manusia untuk durhaka kepada Allah. Seorang hamba yang lambungnya penuh memiliki tenaga, kekuatan, daya, dan potensi yang cukup besar untuk berbuat apa saja. Maka syaithan menggunakan peluang emas ini untuk menggodanya agar memuaskan segenap hawa nafsu dan syahwat dunia yang diinginkannya tanpa harus memperdulikan syariat Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin mampu mengendalikan berbagai dorongan hawa nafsu dan syahwat kesenangan dunia yang sedang bergejolak hebat dalam dirinya, maka hendaklah dia berpuasa. Maka dengan berpuasa, dia akan terbebas dari segala ajakan hawa nafsu dan syahwat yang bisa menjerongkokkannya ke dalam berbagai lembah hitam yang rendah lagi nista. Termasuk syahwat dunia yang bisa dia redam dengan berpuasa adalah syahwat terhadap wanita-wanita yang diharamkan atasnya. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah dia segera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena yang demikian itu buat dirinya adalah tameng”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Betapa banyak para pria yang terjungkal ke dalam lembah neraka jahannam disebabkan oleh fitnah wanita. Intinya, bahwa berpuasa adalah senjata ampuh guna meredam dan mengendalikan hawa nafsu dan syahwat yang durjana. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka berpuasa bukan hanya amalan rutinitas pada bulan suci ramadhan. Akan tetapi lebih daripada itu, berpuasa adalah kebutuhan rohani yang semestinya ditunaikan sesuai prosedur syariat islam yang benar demi menggapai kebaikan dunia dan akherat, sehingga kita menjadi manusia-manusia yang lebih bertakwa dan berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish shawab.
read more...